Lalu kita selesai, begitu?

 

Begitu kuliah malam usai, Jasmine buru-buru menyabet note book beserta perkakas tulis menulisnya lalu menyegerakan diri untuk keluar kelas. Bahkan Jasmine hanya melempar senyum tipis sembari melambaikan tangan begitu teman-teman satu kelasnya memanggil nama gadis bersurai hitam ke-coklatan itu. Jasmine yang biasanya suka menggunakan anak tangga untuk turun, sekarang memilih lift sebagai alat andalan untuk segera keluar dari kampusnya. Begitu pintu lift terbuka di lantai satu, seperti ada sesuatu yang membuat tungkainya secara otomatis berlari menuju cafe  tempat Jasmine membuat janji dengan seseorang.

 

Siapa lagi kalau bukan Yunhyeong.

 

Selama tiga bulan terakhir, banyak yang terjadi pada mereka. Bukan berita baik, tapi kenyataannya mereka sering berdebat. Perkara nya sederhana. Sebab kurang bertemu, kurang bicara, kurang menyapa, hanya sebatas itu. Lantas segala sesuatu pada dasarnya memang bisa menjadi sesuatu yang besar. Tergantung bagaimana orang itu menanggapi. Gamblangnya, begitu sekolah usai, Yunhyeong dengan segala keberuntungannya berhasil mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah tinggi dimana pun yang ia mau. Berbanding terbailk dengan Jasmine, yang harus berjuang keras. Dengan tiga kali kegagalan, ia akhirnya berhasil diterima di sekolah tinggi yang terbilang cukup masyhur di kotanya. Lalu bermula dari sana, hubungan keduanya mendadak tidak baik.

 

Jasmine mencoba mengatur napasnya setelah ter-engah engah sebab berlari terlalu kencang. Ia tak membutuhkan taxi atau bus atau apa yang bisa membawanya cepat datang ke tempat tujuan tanpa merasa kelelahan dan tetap berpenampilan rapi. Pikiran Jasmine teralu pendek. Yang ada di otaknya hanya ‘dia harus segera datang dengan cepat’.

 

Semenit kemudian, gadis itu merapikan pakaian dan surainya yang cukup berantakan karena tersibak angin. Sorot matanya lantas menemukan Yunhyeong sedang duduk sendiri disana, di dalam cafe. Jasmine menghela napas lega. Pasalnya, sebelum ia meninggalkan kelas tadi, ia sempat membaca pesan singkat Yunhyeong.

 

Jika kurang dari sepuluh menit kau belum sampai, aku akan meninggalkanmu.

 

Yunhyeong sungguh ada disana. Berarti Jasmine tidak terlambat. Jasmine masuk dengan hati-hati. Ia bahkan membuat jalannya terlihat berwibawa dan tenang sepeti biasanya. Yunhyeong yang menyadari kedatangan gadisnya, diam saja. Ia tak mengeluarkan se-patah kata pun bahkan sampai Jasmine duduk dihadapannya.

 

Sebelum menit pertama terlewat dari waktu awal mereka bertemu, Jasmine akhirnya angkat bicara.

“Kau akan diam saja seperti ini?”

“Lalu apa yang harus ku katakan?”

“Setidaknya kau memujiku karena aku tidak datang terlambat.”

 

Yunhyeong hanya tersenyum selebar tiga jari. Sedikit meremehkan ucapan Jasmine.

“Aku sudah memesan makanan, jadi kau katakan saja apa yang ingin kau luruskan.”

“Aku duluan yang bicara?”

“Kau yang meminta kita bertemu ‘kan?”

 

Jasmine mencoba mengatur emosinya.  Ia sadar dimana ia sekarang. Bukan di rumahnya atau di rumah Yunhyeong, dan tentu saja bukan dalam percakapan lewat pesan singkat atau telepon yang mana belakangan ini mereka lebih sering…

 

…beradu argumen.

Kali ini, Jasmine mengalah. Ia berusaha untuk bisa bersikap dewasa. Ya, ini pun juga bagian dari pendewasaan jati dirinya.

 

“Aku… Aku.. senang kau bisa mendapat penghargaan yang menakjubkan dan… aku sama sekali tak keberatan kau tau? Aku sama sekali tak merasa bahwa kau telah mengalahkan ku atau apa, tidak. Aku tahu ini jalanmu dan aku juga punya jalan sendiri…”

Yunhyeong diam. Menatap mata Jasmine dengan lamat dan dalam suasana seperti ini sebenarnya membunuh Jasmine perlahan. Semarah apapun Jasmine, jika dia sudah menatap mata dalam Yunhyeong, dia bisa saja memeluknya dan mengatakan bahwa dia sangat merindukan kekasihnya itu. Tapi tidak untuk sekarang, Jasmine harus bisa mengontrol diri.

“Aku sungguh kesusahan. Aku takut, gelisah, sedih… aku sangat membutuhkan seseorang yang setidaknya memberi ku semangat. Tapi aku tidak melihatmu saat itu.”

 

“Aku berusaha menghubungi bahkan menemui mu, Jasmine. Kau yang tak pernah mengizinkanku. Kau bilang kau ingin sendiri, kau butuh waktu.”
“Setidaknya kau harus berusaha. Tak lama… kau sibuk dengan urusanmu sendiri.”

“Kau pikir yang harus ku pikirkan hanya dirimu? Aku juga memikirkan bagaimana aku nantinya, aku anak pertama dalam keluarga dan tentu aku juga harus memikirkan masa depan seperti apa yang aku berikan untuk keluarga ku. Tidakkah kau mengahargai ku, Jasmine?”

 

Jasmine tersentak. Ia sungguh tahu siapa itu Yunhyeong. Ia tahu, pria itu bertanggung jawab dan  begitu menyayangi keluarganya. Ia tentu menghargai Yunhyeong dengan segenap hatinya. Tapi Jasmine tak pernah tahu bahwa ucapannya justru membawa Yunhyeong sedikit emosi karena menyangkut keluarganya. Jasmine hanya butuh Yunhyeong, itu saja. Salah Yunhyeong yang mengartikannya terlalu jauh.

 

“Tidakkah kau menghargaiku juga, sebagai seorang wanita?”

 

Jasmine tahu ia terdengar egois. Ia salah. Bahkan sama sekali Jasmine tak bermaksud menyalahkan Yunhyeong. Yunhyeong pun juga berpikiran sama begitu mendengar pertanyaan Jasmine. Ia salah menafsirkan. Sudah jelas sekarang, Jasmine membutuhkan Yunhyeong. Selalu seperti itu setiap hari.

 

“Aku sudah melakukan apa yang seharusnya aku lakukan padamu. Aku juga sibuk dengan urusanku, tapi aku selalu menghubungi mu. Jangan ingkari itu!”

“Ya, aku tahu persis itu.”

 

“Tapi kau tak pernah memberiku kabar apapun setelah semuanya.”

 

“Aku mengabarimu sekali-dua kali.”

“Apa itu cukup?”

 

“Aku sudah mengatakannya dengan sangat jelas setiap kita bicara lewat telepon atau pesan singkat.”

 

“Sekali, dua kali… Ku tanya sekarang, apa itu cukup?”

 

“Tidakkah setiap saat itu terdengar berlebihan?”

 

Jasmine menaikkan suaranya. Emosinya sedikit demi sedikit mulai terbakar. Bahkan air muka Jasmine perlahan jadi serius.

 

“Justru itu yang ku butuhkan. Setidaknya untuk mengembalikan semangatku.”

 

Yunhyeong berbicara dengan nada rendah. Sorot matanya seakan menusuk tepat ke batin Jasmine. Yunhyeong tak bisa berbohong di depan gadisnya. begitu pula Jasmine yang tak bisa berbohong di depan Yunhyeong. Sekuat tenaga gadis itu membuat emosinya stabil meski sempat luluh dengan ucapan Yunhyeong. Sudah jelas permasalahan kedua, Yunhyeong begitu mengkhawatirkan Jasmine.

 

“Kau tak perlu khawatir padaku, sudah berapa kali aku berucap seperti itu?”

 

“Kau tak ingin di khawatirkan?”

 

“Aku sudah berumur 18 tahun Yunhyeong, aku bukan balita lagi.”

 

“Apa selama ini aku memperlakukan mu seperti balita?”

 

“Kalau begitu biarkan aku bebas, biarkan aku berteman dengan siapapun, biarkan aku leluasa memilih jalanku tanpa harus mendengarkan semua kekhawatiranmu yang berlebih.”

 

“Baik, kalau begitu kau seharusnya tak perlu marah jika aku disukai banyak senior dan gadis-gadis lain  di kampus ku.”

 

Yunhyeong melipat kedua tangannya di dada. Merasa menang dengan ucapannya yang nyatanya berhasil membuat Jasmine tutup mulut untuk beberapa saat. Memang benar, Yunhyeong begitu populer dengan ketampanan dan sikap ramah tamahnya yang tentu saja membuat banyak kaum hawa jatuh hati padanya. Terlebih, Jasmine sudah tidak satu sekolah dengan kekasihnya lagi.

 

“Oh, kau pikir aku tidak punya hak lagi sebagai kekasihmu untuk marah?”

 

“Kenapa harus marah?”

 

“Kau bodoh atau bagaimana? Aku berhak merasa cemburu.”

 

“Lalu aku juga lebih berhak merasa cemburu melihat gadisku tersenyum senang sekali, disandingkan dengan seorang pria yang lebih keren dariku, begitu?”

 

Jasmine tanpa sadar melengos. Menertawakan Yunhyeong dalam hati. Bagaimana bisa dia menjadi seperti anak kecil?

 

“Itu untuk tugas, oh ayolah Yunhyeong. Kau tak percaya padaku?”

 

“Kalau begitu kau juga harus percaya padaku.”

“Bagaimana bisa? Sikapmu dengan para gadis-gadis itu jauh berbeda dengan sikapku pada seniorku.”

 

“Sudah ku bilang ‘kan? Percaya padaku.”

 

Jasmine mendecak kesal. emosinya mulai mencuat sekarang. Yunhyeong pun sama. Ia makin geram dengan pembicaraan mereka.

 

“Tolong jangan buat semuanya jadi runyam.”

 

“Aku sudah membuatnya terlihat mudah, Jasmine.”

 

“Bagian yang mana?”

 

“Jika kau ingin semuanya terlihat adil maka kau juga harus membiarkanku berteman dengan siapapun, melakukan apapun, menjalani apa yang seharusnya aku lakukan tanpa perlu kau khawatirkan, membiarkan aku bebas…”

 

“… Lalu kita selesai, begitu?”

 

 

Skak mat.

                Yunhyeong membeku seketika. Ia sama sekali tak bisa menjawab pertanyaan Jasmine. Ia hanya diam sembari masih menatap mata gadisnya itu dalam-dalam. Tubuh Yunhyeong sungguh tak bisa berbohong, bahkan detak jantungnya pun masih berfungsi dengan kecepatan sangat maksimum ketika pandangan mereka bertemu. Ia masih mengagumi betapa indahnya seorang Jasmine bagi dirinya. Jasmine pun sama.

Sebegitu cepatnya detak jantung gadis itu berdetak hingga telinganya sendiri mendengarnya. Oh, jangan lupa kan keringat dingin di kedua telapak tangan Jasmine karena gugup sebab sedang dipandang lamat-lamat oleh pria tampan pujaannya. Ada perasaan bersalah pada Jasmine yang berucap seperti itu, ada juga perasaan mengumpat pada diri Yunhyeong yang membawa Jasmine jadi bertanya seperti itu.  Serba salah. keduanya pun merasa tak enak hati.

 

Hati mereka sungguh tak bisa berbohong. Jadi mereka memilih tak berujar apapun, sampai makanan mereka datang dan menyantapnya dalam diam. Bahkan sendok pun seakan enggan untuk bergesekan dan menimbulkan suara dengan piring selayaknya orang makan pada umumnya. Jasmine sibuk dengan pikirannya. Kembali mengingat apa ucapannya benar? Hal sama juga terjadi pada Yunhyeong. Sungguh canggung sekali mereka saat ini.

 

Lantas naluri Yunhyeong tak bisa untuk diajak berkompromi lagi. Dibanding berdebat dan membiarkan luapan amarahnya dilontarkan untuk Jasmine, rasa rindunya sungguh mematikan itu semua. Ia sangat ingin menghabiskan malam ini bersama kekasihnya yang bak malaikat ini. Jadi Yunhyeong bangkit, lalu berdiri dihapadan Jasmine dengan salah satu tangannya menggenggam pergelangan sang gadis.

 

“Ayo ikut aku.”

 

Lalu tanpa banyak bertanya, Jasmine menuruti apa kemauan pemuda Song itu. Jauh dari dasar hati Jasmine, ia merindukan sentuhan Yunhyeong yang menggenggam tangannya seperti itu.

Yunhyeong ingin membuat kenangan baik malam ini. Jadi dia membawa Jasmine pergi ke tempat bermain. Ia habiskan waktu mereka disana. Naik bianglala adalah destinasi rekomendasi dari Jasmine. Bukan Yunhyeong tidak mau, hanya saja naik bianglala bersama kekasih seharusnya tidak diawal –setidaknya untuk selera seorang gadis pada umumnya. Akan sangat manis begitu mereka naik bianglala begitu petualangan di arena bermain usai. Lalu malam mereka berakhir dengan satu ciuman yang romantis. Tapi itulah daya tarik Jasmine. Ia sungguh berbeda dengan gadis kebanyakan.

Mereka bersenang-senang disana. Bahkan bercerita banyak hal. Lalu menggambil gambar dan melakukan selca bersama latar belakang indahnya kota pada malam hari dari atas. Setelahnya, mereka menguji nyali dengan masuk ke rumah hantu. Tebak siapa yang paling ketakutan!?

 

Jasmine tentu saja. Sebelum Yunhyeong berteriak lebih keras ketika dari belakang si hantu jadi-jadian itu mencoba memeluknya. Jasmine langsung saja tertawa sekencang mungkin sampai rasa takutnya seratus persen hilang. Padahal Yunhyeong ingin membuat skinship secara tak sengaja dengan rencana Jasmine akan memeluknya atau menggenggam tangannya lebih erat. Justru gadis itu malah pergi meninggalkannya berjalan sendirian.

 

Jangan lupakan juga film 4D yang tentu tak mungkin mereka lewatkan. Kebetulan sekali film yang diputar kali ini tentang action yang sungguh membuat Jasmine dan Yunhyeong sama-sama antusias. Mereka akan berteriak jika itu mengejutkan, tertawa jika itu lucu, bahkan kesal jika memang adegannya sangat mengesalkan.

 

Jasmine dan Yunhyeong juga menyempatkan diri untuk bermain game dengan memilih boneka sendiri sebagai hadiahnya menggunakan alat pengambil seperti biasa dilihat di timezone dan semacamnya. Selama setengah jam tak satu pun boneka yang didapat. Baik Jasmine mau pun Yunhyeong tak beruntung juga tak handal.

 

Oh! Jasmine dan Yunhyeong sungguh sama persis seperti pasangan kebanyakan. Bersenang-senang, bercanda, tertawa, saling memuji dan menjaga, bahkan melakukan skinship. Setidaknya bergandengan tangan, atau mengelus puncak kepala dengan sayang. Seperti tak terjadi apapun sebelumnya.

 

“Kau lelah?”

Jasmine tersenyum, “Tak juga.”

“Kau masih mau ikut dengan ku ‘kan?”

“Memangnya kita mau kemana lagi?”

 

Yunhyeong tak menjawab. Ia gandeng kembali tangan si gadis. Kali ini dengan menautkan beberapa jemarinya dengan milik Jasmine. Seakan tak ingin lepas dengannya malam ini. Pemuda itu mengajak Jasmine keluar dari tempat bermain dan membukakan pintu mobil yang entah sejak kapan sudah siap di pintu keluar. Seperti menyambut kedatangan tuannya. Dengan sedikit aba-aba Yunhyeong, gadisnya itu masuk ke dalam mobil di bangku penumpang bersama Yunhyeong disebelahnya.

 

Begitu mobil itu berangkat, Jasmine mulai kebingungan. Ia tatap Yunhyeong yang pandangannya lurus ke depan. Sedetik pun tak beralih padanya untuk menjelaskan sesuatu.

“Kita mau kemana?”

 

Pemuda Song itu masih diam. Ia hanya mendekatkan posisi duduknya di dekat Jasmine, lalu meletakkan kepalanya tepat di pundak sang gadis. Menyandarkan sebagian tubuhnya pada Jasmine sembari menutup matanya. Lantas tangan kirinya menggenggam erat tangan Jasmine.

 

“Sebentar saja aku ingin seperti ini.”

Jasmine tak tahu harus apa. Bahkan perasaannya pun campur aduk. Tak tahu harus senang, sedih atau justru khawatir dengan apa yang akan terjadi setelah ini padanya dan Yunhyeong. Tapi gadis itu memilih untuk diam saja. Membuat Yunhyeong se-nyaman mungkin berada di dekatnya.

 

Mobil itu lalu berhenti tepat di sebuah airport. Sang sopir lalu turun dan membukakan pintu untuk Jasmine juga Yunhyeong. Mereka turun bersamaan. Gadis itu masih saja diam, hanya garis wajahnya yang bertanya-tanya. Lalu setelah itu ia melihat Yunhyeong menurunkan kopernya dari bagasi mobil, tersenyum manis pada Jasmine sembari menggandeng tangan si gadis untuk dibawa masuk ke dalam airport.

Mereka lalu duduk di salah satu bangku yang jauh dari keramaian. Alasannya, bukan apa-apa. Sebab Yunhyeong ingin bicara pada Jasmine dan itu butuh suasana tenang. Tapi Jasmine memang seorang gadis yang sangat peka terhadap keadaan. Sedari tadi, maniknya membelalak dengan arah pandang tertuju pada Yunhyeong. Seperti ada sesuatu yang terkait antara mereka, secara tidak langsung, Jasmine bisa membaca apa yang ada di pikiran sang kekasih.

 

“Aku tahu kau mendapat beasiswa. Tapi aku tidak tahu jika itu di luar negeri.”

 

Yunhyeong tersenyum kecil mendengar Jasmine bersua. Ada perasaan salah tingkah dalam dirinya, Jasmine sungguh sangat bisa membaca arah mata dan gerak geriknya.

 

“Aku sudah berniat memberi tahu mu, jika kau tidak mengabaikanku.”

 

“Aku tidak pernah mengabaikanmu, Yunhyeong.”

 

Pemuda itu tertawa, “Aku tahu.”

 

Jasmine diam. Sekuat tenaga dia mencoba mencari alasan mengapa tadi Yunhyeong menuruti semua keinginannya untuk melakukan ini-itu. Karena setelahnya mereka akan datang disini?

 

“Inggris. Aku akan bersekolah di sana, setelah pelatihan satu minggu kemarin di universitas lokal.”

 

“Aku sungguh kalah banyak langkah denganmu.”

 

“Kau bisa menyusulku suatu saat nanti.”

 

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

 

“Aku tak memaksamu, Jasmine.”

 

Jasmine meringis. Tak adil rasanya bersekolah tinggi ke Inggris hanya untuk bertemu dengan Yunhyeong.

 

“Lebih dari rasa senang dan bahagia, tak ada kata yang pantas digambarkan begitu aku akhirnya bertemu denganmu dan bersamamu. Maaf atas semua kejadian yang membuatmu sakit. Maaf jika aku sudah membuat luka padamu.”

 

“Tak apa. Semua manusia tidak se-bersih malaikat.”

 

“Terima kasih sudah menjadi bagian dalam hidupku.”

 

Gadis berdarah campuran itu tertawa begitu saja. Geli mendengar ucapan Yunhyeong yang terdengar konyol.

 

“Ini pertama kalinya kau berbicara se-romantis itu.” Sang pemuda pun ikut tertawa. Ya, ini pertama kalinya juga dia bicara se-begitu menggelikannya. Bicara ‘aku cinta kamu’ saja jika bukan karena paksaan dari lubuk hati, maka ia tak akan berkata seperti itu.

 

“Aku juga meminta maaf padamu atas segala sikapku yang menyebalkan dan merepotkanmu…”

“Kau harus membayarnya kalau aku kembali nanti.”

 

Jasmine terkikik, lalu kembali melanjtkan kalimatnya yang terputus.

“Terima kasih juga sudah… menjadi milikku selama ini.”

 

Tak kalah keras, Yunhyeong tertawa di hadapan Jasmine. Orang yang melihatnya pun bisa saja ber asumsi yang tidak-tidak. Mungkin menertawakan mereka, atau membuat lelucon tentang mereka.

 

“Jangan salah tingkah seperti itu!”

“Kau lucu, Jasmine!”

 

Kedua sejoli itu kembali larut dalam diam. Sedih, tapi juga senang karena hubungan mereka tak seburuk ekspetasinya setelah berdebat beberapa jam yang lalu.

 

“Jaga dirimu.” Ujar Yunhyeong, kini ia elus puncak kepala sang gadis.

 

“Aku yang harusnya berkata sepert itu. Aku tentu baik-baik saja di negara ku sendiri.”

 

Setelah ini, Yunhyeong akan merindukan sikap sombong Jasmine yang hanya ditunjukkan padanya. Tak hanya itu, ia akan merindukan semua yang ada pada Jasmine. Setiap harinya, bahkan setiap detik.

 

“Apa kita bisa bertemu lagi?”

 

“Kita pasti akan bertemu di waktu yang tepat. Percayalah.”

 

Jasmine menepuk pundak Yunhyeong. Setiap orang punya jalan mereka masing-masing. Kita tidak pernah tahu akan jadi apa kita besok atau hari-hari setelahnya. Yang bisa kita lakukan hanya menjalani itu semua, dan ia tahu waktu tak akan pernah ingkar. Jika saat mereka bertemu, maka itu akan terjadi. Entah seperti apa nanti keadaannya.

 

Yunhyeong mengangguk, “Boleh aku melakukan sesuatu?”

“Apa?”

Yunhyeong perlahan melangkah maju untuk mendekap badan mungil Jasmine. Ia dekap tubuh gadis itu, dan menyimpannya dalam memori saat-saat seperti ini. Ia bersumpah, ia tak akan pernah lupa bagaimana rasa tenangnya memeluk Jasmine.

 

“Kau hanya belajar disana, aku tahu.”  ujar Jasmine seolah-olah tak ingin semuanya terlihat seperti sesuatu yang menyedihkan. Meski dalam hatinya ia berusaha untuk tak menangis.

 

“Sampai bertemu lagi, Jasmine.”

 

 

 

“Kau hati-hati di sana, Yunhyeong.”

 

 

 

Pemuda itu lalu melepas pelukan mereka dan berjalan pergi meninggalkan Jasmine dibelakang. Menjemput pesawat yang membawanya pergi ke benua Eropa dimana ia akan berada sangat jauh dengan Jasmine. Gadis itu melambai sebentar begitu Yunhyeong membalikkan badan kearahnya. Ia lebarkan senyumnya lantas berdoa untuk keberhasilan Yunhyeong nantinya sembari memandang punggung Yunhyeong yang semakin menjauh.

 

 

 

 

 

-end-

Advertisements